Sabtu, 02 Juni 2012

Konsumsi dan Pengeluaran Pemerintah


Bab 1 Pendahuluan

1.1.            Latar belakang
Identitas keseimbangaan pendapatan nasional Y=C+I+G merupakan pandangan kaum Keynesian akan relevansi campur tangan pemerintah dalam perekonomian tertutup. Formula ini dikenal sebagai identitas pendapatan national. Y meruapakan pendapatan nasional, C merupakan pengeluaran konsumsi dan G merupakan pengeluaran pemerintah. Dengan membandingkan nilai G terhadap Y serta mengamati dari waktu ke waktu dapat diketahui seberapa besar kontribusi pengeluaran pemerintah dalam pembentukan pendapatan nasional.
Menurut Keynes, untuk menghindari timbulnya stagnasi dalam perekonomian, pemerintah berupaya untuk meningkatkan jumlah pengeluaran pemerintah (G) dengan tingkat yang lebih tinggi dari pendapatan nasional sehingga mengimbangi kecenderungan mengonsumsi (C) dalam perekonomian.  Besarnya pendapatan nasional menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi guna menciptakan kesejahteraan ekonomi masyarakat juga meningkat. Indikator kesejahteraan ekonomi adalah tingkat pengangguran dan kemiskinan.

Selama lima tahun terakhir, pendapatan nasional mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Data nota keuangan menyebutkan pertumbuhan ekonomi akhir tahun 2011 mencapai 6,5%, tingkat pengangguran mengalami penurunan sebesar 6,56% dan kemiskinan menurun menjadi 12,49%.

Implikasi pertumbuhan ekonomi memberikan perubahan berarti dalam perekonomian terutama tingkat pengangguran dan kemiskinan. Maka dari itu, selama lima tahun terakhir berapa besar konsumsi dan pengeluaran pemerintah dalam menyokong pertumbuhan ekonomi.

1.2.            Rumusan masalah
Dari uraian latar belakang, ada beberapa masalah yang dapat dirumuskan, yaitu :
1.      Seberapa besar pengeluaran konsumsi dan pengeuaran pemerintah pada output agregat (Y) selama lima tahun terakhir?
2.      Berapa tingkat pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir?
3.      Berapa tingkat pengangguran dan kemiskinan selama lima tahun terakhir?

1.3.   Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Menyelesaikan tugas malakah perkuliahan Perkonomian Indonesia
2.      Mengetahui berapa besar pengeluaran konsumsi dan pengelauran pemerintah selama lima tahun terakhir.
3.      Mengatahui berapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir.
4.      Mengatahui berapa besar tingkat pengangguran dan kemiskinan selama lima tahun terakhir.















Bab 2 Landasan teori

2.1   Pengertian Konsumsi
Dalam pengertian ilmu ekonomi, pengertian konsumsi ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan faedah suatu benda (barang dan jasa) dalam rangka pemenuhan kebutuhan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga, antara lain :
  1. Faktor Ekonomi
a)      Pendapatan Rumah Tangga ( Household Income )
Pendapatan rumah tangga amat besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi. Biasanya makin baik tingkat pendapatan, tongkat konsumsi makin tinggi. Karena ketika tingkat pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan konsumsi menjadi semakin besar atau mungkin juga pola hidup menjadi semakin konsumtif, setidak-tidaknya semakin menuntut kualitas yang baik.

b)      Kekayaan Rumah Tangga ( Household Wealth )
Tercakup dalam pengertian kekayaaan rumah tangga adalah kekayaan rill (rumah, tanah, dan mobil) dan finansial (deposito berjangka, saham, dan surat-surat berharga). Kekayaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi karena menambah pendapatan disposable.

c)      Tingkat Bunga ( Interest Rate )
Tingkat bunga yang tinggi dapat mengurangi keinginan konsumsi. Dengan tingkat bunga yang tinggi, maka biaya ekonomi (opportunity cost) dari kegiatan konsumsi akan semakin mahal. Bagi mereka yang ingin mengonsumsi dengan berutang dahulu, misalnya dengan meminjam dari bank atau menggunakan kartu kredit, biaya bunga semakin mahal, sehingga lebih baik menunda/mengurangi konsumsi.

d)     Perkiraan Tentang Masa Depan (Household Expectation About The Future)
Faktor-faktor internal yang dipergunakan untuk memperkirakan prospek masa depan rumah tangga antara lain pekerjaan, karier dan gaji yang menjanjikan, banyak anggota keluarga yang telah bekerja. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain kondisi perekonomian domestik dan internasional, jenis-jenis dan arah kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

2.      Faktor Demografi
a)      Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi secara menyeluruh walaupun pengeluaran rata-rata per orang atau per keluarga relatif rendah. Pengeluaran konsumsi suatu negara akan sangat besar bila jumlah penduduk sangat banyak dan pendapatan per kapita sangat tinggi.

b)      Komposisi Penduduk
Pengaruh komposisi penduduk terhadap tingkat konsumsi, antara lain :
·         Makin banyak penduduk yang berusia kerja atau produktif (15-64 tahun) makin besar tingkat konsumsi. Sebab makin banyak penduduk yang bekerja, penghasilan juga makin besar.
·         Makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, tingkat konsumsinya juga makin tinggi. Sebab pada saat seseorang atau suatu keluarga makin berpendidikan tinggi maka kebutuhan hidupnya makin banyak.
·         Makin banyak penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan (urban),
pengeluaran konsumsi juga semakin tinggi. Sebab umumnya pola hidup masyarakat perkotaan lebih konsumtif dibandingkan masyarakat  pedesaan.




3.      Faktor-faktor Non Ekonomi
Faktor-faktor non-ekonomi yang paling berpengaruh  terhadap besarnya konsumsi adalah faktor sosial budaya masyarakat. Misalnya saja berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat/ideal.

2.2   Teori pengeluaran pemerintah Versi Keynes
Menurut Keynes, untuk menghindari timbulnya stagnasi dalam perekonomian, pemerintah berupaya untuk meningkatkan jumlah pengeluaran pemerintah (G) dengan tingkat yang lebih tinggi dari pendapatan nasional sehingga mengimbangi kecenderungan mengonsumsi (C) dalam perekonomian.  Perpajakan dan pengeluaran pemerintah saling berkaitan dalam pengertian fiskal atau APBN secara keseluruhan.

Pengeluaran pemerintah digolongkan menjadi dua yaitu :
1.   Pengeluaran rutin
2.   Pengeluaran pembangunan

Pengeluaran rutin adalah pengeluaran yang digunakan untuk pemeliaharaan atau penyelenggaraan pemerintah sehari-hari.
Pengeluaran rutin terdiri dari :
a.    Pengeluaran untuk belanja pegawai
b.   Pengeluaran untuk belanja barang
c.    Pengeluaran untuk subsidi daerah otonom
d.   Pengeluaran untuk membayar harga dan cicilan hutang
e.    Pengeluaran lain-lain
Sedangkan pengeluaran untuk pembangunan terdiri dari :
a.    Pengeluaran untuk pembiayaan departemen
b.   Pegeluaran utnk pembiayaan bagi daerah
c.    Pengeluaran untuk pembiayaan lain-lain
d.   Pengeluaran untuk bantuan proyek
Bab 3 Pembahasan
Tabel Konsumsi
Presentase Konsumsi Rumah Tangga Menurut Kelompok Barang (2007-2011)
Kelompok Barang
2007
2008
2009
2010
2011
Makanan:





- Padi-padian
10.15
9.57
8.86
8.89
7.48
- Umbi-umbian
0.56
0.53
0.51
0.49
0.51
- Ikan
3.91
3.96
4.29
4.34
4.27
- Daging
1.95
1.84
1.89
2.1
1.85
- Telur dan susu
2.97
3.12
3.27
3.2
2.88
- Sayur-sayuran
3.87
4.02
3.91
3.84
4.31
- Kacang-kacangan
1.47
1.55
1.57
1.49
1.26
- Buah-buahan
2.56
2.27
2.05
2.49
2.15
- Minyak dan lemak
1.69
2.16
1.96
1.92
1.91
- Bahan minuman
2.21
2.13
2.02
2.26
1.8
- Bumbu-bumbuan
1.1
1.12
1.08
1.09
1.06
- Konsumsi lainnya
1.34
1.39
1.33
1.29
1.07
- Makanan jadi
10.48*)
11.44*)
12.63*)
12.79*)
13.73*)
- Minuman beralkohol
-
-
-
-
-
- Tembakau dan sirih
4.97
5.08
5.26
5.25
5.16
Jumlah makanan
49.24
50.17
50.62
51.43
49.45
Bukan makanan:





- Perumahan dan fasilitas rumahtangga
20.78
20.21
19.89
20.36
19.91
- Barang dan jasa
17.01
17.12
17.49
16.78
17.92
- Pakaian, alas kaki dan tutup kepala
3.33
3.37
3.33
3.38
2.02
- Barang-barang tahan lama
6.47
6.37
5.88
5.14
7.52
- Pajak dan asuransi
1.27
1.25
1.41
1.57
1.64
- Keperluan pesta dan upacara
1.89
1.51
1.36
1.32
1.53
Jumlah bukan makanan
50.76
49.83
49.38
48.57
50.55
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional , Modul Konsumsi
Tabel Pengeluaran Pemerintah
Realisasi Pengeluaran Negara 2007-2011

Jenis Pengeluaran
2007 1)
2008 1)
2009 1)
2010 1)
2011 2)
Belanja Pegawai
90,425
112,830
127,670
148,078
182,875

Gaji dan Tunjangan
50,343
67,761
70,654
80,990
89,737

Honorarium dan Vakasi
11,532
7,766
8,496
14,334
31,025

Kontribusi Sosial
28,550
37,303
48,520
52,754
62,113






Belanja Barang
54,511
55,963
80,668
97,597
142,826







Belanja Modal
64,289
72,773
75,871
80,287
140,952







Pembayaran Bunga Utang
79,806
88,430
93,782
88,383
106,584

Utang Dalam Negeri
54,079
59,887
63,756
61,480
76,614

Utang Luar Negeri
25,727
28,543
30,026
26,903
29,970







Subsidi
150,215
275,291
138,082
192,707
237,195

Energi
116,866
223,013
94,586
139,953
195,289

Non Energi
33,349
52,278
43,496
52,754
41,906






Belanja Hibah
-
-
-
70
405






Bantuan Sosial
49,756
57,741
73,813
68,611
81,810







Belanja Lain-lain
15,621
30,328
38,926
21,673
15,596







Jumlah
504,623
693,356
628,812
697,406
908,243
Sumber : Departemen Keuangan


Grafik I          Pertumbuhan Ekonomi (y-o-y)

Sumber : Nota Keuangan dan APBN Th 2012

Grafik II        Sumber Pertumbuhan PDB Menurut Sektor Konsumsi Rumah Tangga Dan Konsumsi Pemerintah

Sumber : Nota Keuangan dan APBN Th 2009-2012

Analisis

v  Tahun 2007
Pada triwulan I  Pengeluaran konsumsi masyarakat mencapai 5,0%. Peningkatan konsumsi riil masyarakat didorong oleh perbaikan daya beli, diantaranya berasal dari kenaikan gaji PNS dan Upah Minimum Provinsi (UMP), penuruna inflasi dan suku bunga. Konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 3,9%. Hal ini anatara lain disebabkan pada tahun 2006 terdapat luncuran belanja anggran tahun 2005. Selain itu tahun 2007 pemerintah melakukan penghematahan anggaran dalam rangka mengurangi defisit yang semakin meningkat.

v  Tahun 2008
Pada triwulan I konsumsi rumah tangga mencapai 5,5% dan konsumsi pemerintah 3,6%. Meskipun dibayang-bayangi oleh laju inflasi, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih meningkat cukup tinggi.
Memasuki triwulan II, laju pertumbuhan ekonomi sedikit mengalai perlambatan. Kondisi ekonomi global, tekanan harga bahan pangan dan minyak mentah sedikit banyak mempegaruhi konsidi perekonomian domestik. Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5,3% dan laju konsumsi pemerintah 4,2%.

v  Tahun 2009
Pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan pada tingkat 4,6% (y-o-y)  bila dibandigkan tahun 2008 mencapai 6,0% (y-o-y). Akan tetapi pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi rumah tangga sebesar 4,85% (y-o-y)  dan konsumsi pemerintah sebesar 15,72% (y-o-y).
Konsumsi masyarakat tetap mampu tumbuh tinggi selama tahun 2009 yaitu 4,85% (y-o-y), meskipun lebih rendah realisasinya dalam periode yang sama pada tahun 2008 yang mencapai 5,34% (y-o-y). Penurunan ini diakibatkan oleh melemahnya daya beli masyarakat sebagai imbas krisis global. Namun terdapat beberapa faktor yang mampu menahan laju penurunan konsumsi masyarakat tersebut, antara lain pelaksanaan pemilu, stimulus fiskal berupa insentif pajak, kenaikan gaji dan pemberian gaji PNS/TNI/Polri dan penyaluran BLT kepada rakyat miskin.konsumsi non makanan tumbuh sebesar 5,97% (y-o-y) sedangakn konsumsi makanan tumbuh 3,57% (y-o-y). Konsumsi pemerintah yang meliputi belanja barang mencapai 21,06% sedangkan pegawai tumbuh sebesar 5,10%.

v  Tahun 2010
Konsumsi masyarakat mampu tumbuh 4,6  (y-o-y) di tahun 2010, sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan ditahun 2009 yang mencapai 4,85% (y-o-y) karena masih terkendala dengan tekanan inflasi di tahun 2000 yang mempengaruhi tingkat daya beli masyarakat. Jenis konsumsi non manakan masih tetap menjadi pendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat dibandingkan konsumsi makanan tumbuh sebesar 3,4 % (yo-y). Konsumsi masayarakat masih mempunyai peranan yang paling besar terhadap PDB yaitu sebesar 56,7% .
Konsumsi pemerintah di tahun 2010 minus 7,65% (y-o-y), jauh lebih rendah dibanding pertumbuhannya pada tahun 2009 yang mencapai 15,72 % (y-o-y) karena adanya pencairan anggaran stimulus fiscal yang cukup besar di tahun 2009 sebagai antisipasi defisit anggaran untuk mengurangi dampak krisis global sserta pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden.

v  Tahun 2011
Memasuki tahun 2011, perekonomian nasional menunjukan kinerja yang semakin membaik. Pada kuartal I PDB tumbuh sebesar 6,5% (y-o-y) lebih tinggi bila dibandingkan dengan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 5,6% (y-o-y). Pertumbuhan konsumi rumah tangga didorong oleh meningkatnya konsumsi non-makanan yang tumbuh sebesar 5,5% dan konsumsi makanan sebesar 3,4%. Konsumsi pemerintah tumbuh 3,0% (y-o-y) meningkat bila dibandingkan dengan realisasinya periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar minus 7,6%. Pertumbuhan tersebut terjadi akibat dai masih rendahnya realisasi penyerapan anggaran yang secara musiman terjadi diawal tahun. Pada kuartal I tahun 2011, belanja barang hanya tumbuh 2,9%, belanja pegawai tumbuh 6,3% sedangkan penerimaan barang dan jasa yang menjadi faktor pengurang konsumsi pemerintah tumbuh tinggi yaitu sebsesar 25,8%. Belanja barang hingga mencapai 21,06 persen. Selain itu, belanja pegawai tumbuh sebesar 5,10 persen berkaitan dengan kebijakan kenaikan gaji pokok dan pensiun pokok,.
Konsumsi pemerintah di kuartal II tahun 2011 tumbuh 4,5% (y-o-y). Angka tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan di kuartal II tahun 2010 yang negatif 7,3% (y-o-y). Hal ini menunjukan realisasi belanja tahun 2011 jauh lebih baik dibandingkan tahun 2010. Konsumsi rumah tangga jauh meningkat, meskipun tidak setinggi kuartal II tahun lalu yang mampu tumbuh 5,0% (y-o-y). Meningkatnya pendapatan rumah tangga di sector pertanian sebagai dampak dari panen  raya yang masih berlanjut di kuartal II dan faktor-faktor lain seperti liburan sekolah dan tahun ajaran baru telah mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh 4,6% (y-o-y) dan 3,65 (y-o-y). 


Dampak

Peingkatan pertumbuahan ekonomi yang didorong oleh konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah memberikan dampak positif terhadap tingkat pengangguran dan kemiskinan yang terus mengalami penurunan.

Grafik III       Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan (dalam Persen)

Kesimpulan


Pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh berbagai sumber diantaranya adalah konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah. Besanya tingkat konsumsi msyarakat dan konsumsi pemerintah dipengaruhi oleh indikator masing-masing baik dalam lingkup nasional maupun regional. Indikator regional seperti kondisi perekonomian global dan harga minyak dunia. Sedangkan dalam lingkup nasional seperti kebijakan pemerintah, kondisi alam dan konsidi sosial.
Semikin tingginya tingkat konsumsi masyaraat dan konsumsi pemerintah, mendorong pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. Dampak atas pertumbuhan ini meningkatkan kesejahteraan masyarakat diantaranya penurunan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan secara signifikan. 





note :
maaf jika ada kemiripan engan postingan dari temen-temen yang lain. bukan bermaksud tertentu hanya untuk materi belajar.. ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar